PEMKAB SIMALUNGUN PERKUAT PENGENDALIAN BANJIR, SUNGAI PONDOK PELITA DINORMALISASI
SIMALUNGUN | SemiMedia.co.id — Pemerintah Kabupaten Simalungun terus memperkuat upaya penanganan dan pencegahan banjir di kawasan Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar. Selain mempercepat pemulihan pascabanjir, pemerintah mulai mengintensifkan langkah antisipasi agar ancaman banjir tidak kembali mengganggu aktivitas masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah normalisasi Sungai Pondok Pelita di Nagori Dolok Merangir I. Pengerukan sedimentasi dilakukan untuk mengurangi material pasir dan endapan yang menumpuk di badan sungai sehingga kapasitas serta kelancaran aliran air dapat ditingkatkan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara gotong royong dengan melibatkan unsur pemerintah kecamatan, perangkat daerah, Forkopimca, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat.

Camat Dolok Batu Nanggar, Siti Aminah Siregar, mengatakan normalisasi sungai diharapkan dapat membantu memperlancar aliran air sekaligus mendukung pemulihan aktivitas masyarakat setelah terjadinya banjir.
“Penanganan ini bukan hanya untuk memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga memastikan aktivitas sosial, keagamaan, pendidikan dan perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan normal,” ujarnya.
Selain normalisasi Sungai Pondok Pelita, Pemkab Simalungun juga mengambil langkah penting dengan mengupayakan pengaktifan kembali Pintu Air Bahbolon di Nagori Dolok Ilir I.

Pintu air yang dibangun pada tahun 1912 tersebut diketahui sudah sekitar enam tahun tidak berfungsi. Pemerintah mendatangkan alat berat untuk membantu membuka kembali pintu air yang mengalami kendala teknis.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Simalungun, Budiman Silalahi, menegaskan bahwa pengaktifan kembali Pintu Air Bahbolon merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menangani persoalan banjir dari sisi hulu hingga hilir.
“Setelah pintu air dapat berfungsi kembali, kita akan melanjutkan dengan pengerukan endapan yang cukup tebal di sana. Dengan demikian, aliran air di kawasan ini diharapkan lebih terkendali dan risiko genangan dapat berkurang,” jelasnya.
Menurut Budiman, penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan koordinasi dan sinergi lintas sektor agar langkah yang dilakukan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.

“Kita tidak ingin masyarakat terus dihantui ancaman banjir setiap musim hujan. Seluruh perkembangan akan terus dipantau dan ditindaklanjuti secara berkesinambungan,” tegas Budiman.
Pemkab Simalungun memastikan penanganan kawasan rawan banjir di Serbelawan dan sekitarnya akan terus dilakukan secara bertahap. Normalisasi sungai, pengaktifan kembali pintu air serta penguatan koordinasi antarinstansi menjadi bagian dari langkah pemerintah membangun sistem pengendalian banjir yang lebih baik.
Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar serta mendukung setiap upaya penanggulangan banjir.
Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat dan seluruh unsur terkait, Pemkab Simalungun menargetkan kawasan Serbelawan memiliki sistem pengendalian air yang lebih optimal sehingga risiko banjir dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.
Redaksi : Arif


Komentar (0)