Ratusan TBM di Afdeling 6 Kebun Bukit 5 PTPN IV Regional 1 Mati, Mandor: “Betul Bang”

Oleh admin • 28 Agu 2026, 22:16 WIB • 116 Views

SIMALUNGUN | SemiMedia.co.id — Kondisi tanaman belum menghasilkan (TBM) di Afdeling 6 Unit Kebun Bukit 5, PTPN IV Regional 1, menjadi sorotan. Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, sejumlah areal TBM terlihat dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian tanaman dilaporkan mati, sementara beberapa kawasan lainnya tampak ditumbuhi semak belukar.

 

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pelaksanaan pemeliharaan tanaman, pengawasan pekerjaan, hingga tanggung jawab pihak yang terlibat dalam pengelolaan areal TBM.

 

Salah seorang mandor Kebun Bukit 5, Suratno, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya tanaman TBM yang mati dalam jumlah besar.

 

“Betul bang, ratusan TBM mati dan ditumbuhi semak belukar,” ungkap Suratno.

 

Menurutnya, sebagian tanaman yang mati telah dilakukan penyisipan menggunakan bibit tukulan atau bibit Mari Leles, yang disebut sebagai Marihat lelesan.

 

“Yang mati itu sudah kami sisip dengan bibit tukulan, Mari Leles (Marihat lelesan),” ujarnya.

 

Namun, keterangan tersebut justru memunculkan persoalan lain. Suratno mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan penyisipan, karyawan kebun turut melakukan pekerjaan di areal TBM yang menurutnya masih menjadi tanggung jawab vendor.

 

“Kami bekerja di lokasi TBM ini karyawan, padahal ini masih tanggung jawab vendor,” ungkapnya.

 

Pernyataan tersebut menjadi perhatian, mengingat apabila pekerjaan pemeliharaan dan penyisipan masih berada dalam masa tanggung jawab vendor, perlu ada penjelasan mengenai dasar dilakukannya pekerjaan oleh karyawan kebun.

 

Pertanyakan Pengawasan Vendor

 

Kondisi ratusan tanaman TBM yang mati juga menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait mekanisme pengawasan pekerjaan.

 

Di antaranya, apakah pengawasan terhadap pekerjaan vendor telah berjalan secara optimal? Siapa yang bertanggung jawab atas tanaman yang mengalami kematian dalam jumlah besar? Kemudian, bagaimana pelaksanaan pemeliharaan dan penyisipan tanaman tersebut serta berapa anggaran yang telah dikeluarkan perusahaan?

 

Pertanyaan tersebut penting untuk dijelaskan karena TBM merupakan bagian dari investasi perusahaan yang membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan hingga memasuki masa menghasilkan.

 

Apabila pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab vendor kemudian dilakukan oleh karyawan, tentu perlu ada kejelasan mengenai mekanisme, dasar pekerjaan, serta pembebanan biaya atas pekerjaan tersebut.

 

Asisten Afdeling 6 Belum Memberikan Tanggapan

 

Untuk mendapatkan konfirmasi dan penjelasan dari pihak manajemen, awak media mencoba menghubungi Asisten Afdeling 6, Saut Damanik, melalui pesan WhatsApp.

 

Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan tersebut belum mendapatkan tanggapan dan hanya menunjukkan status ceklis satu.

 

Sementara itu, Manajer dan Askep Kebun Bukit 5 juga belum berhasil dikonfirmasi terkait kondisi ratusan TBM yang mati tersebut.

 

Awak media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak manajemen PTPN IV Regional 1 maupun pihak vendor terkait seluruh informasi yang disampaikan dalam pemberitaan ini.

 

Manajemen Diminta Turun ke Lapangan

 

Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian serius manajemen PTPN IV Regional 1. Pemeriksaan langsung ke Afdeling 6 dinilai penting untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

 

Manajemen juga diharapkan mengevaluasi tingkat kematian tanaman, kualitas dan sumber bibit penyisipan, pelaksanaan pemeliharaan, kinerja vendor, serta penggunaan anggaran yang berkaitan dengan pekerjaan TBM.

 

Jika dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran dalam pelaksanaan pekerjaan, perusahaan diharapkan mengambil langkah evaluasi dan tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Sebab, jangan sampai tanaman mati dalam jumlah besar, sementara pekerjaan pemeliharaan dan anggaran tetap berjalan tanpa pengawasan yang memadai.

 

Kini publik menunggu penjelasan resmi manajemen PTPN IV Regional 1: apa penyebab ratusan TBM tersebut mati dan siapa yang bertanggung jawab?

 

Redaksi : T Sinambela

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top